Menurutnya, penetapan 19 Agustus 1945 sebagai Hari Jadi Provinsi Jawa Tengah, didasarkan pada sumber de vacto dan de jure. Hal itu menunjukkan, Jawa Tengah lahir dalam kancah revolusi yang dapat mendorong semangat identitas historis.
Pada saat itu, lanjutnya, Jawa Tengah lahir berdekatan dengan momen kemerdekaan Indonesia. Sehingga ada nilai perjuangan, dan memiliki kontribusi penting dalam mempertahankan kemerdekaan. “Jateng merupakan barometer kemerdekaan Indonesia,” tegasnya.
Bagi Prof Singgih, kelahiran Jawa Tengah di masa revoluasi bisa menjadi bahan pembelajaran sejarah kepada siswa dan anak muda. Tujuannya, agar mereka memiliki kebanggaan, Jawa Tengah sudah lahir sejak awal kemerdekaan.
Dengan demikian, siswa dan anak muda akan memiliki rasa perjuangan, semangat, dan kebanggaan sebagai bagian dari kancah revolusi.
“Pada usianya yang sudah 80 tahun, Jawa Tengah sudah menjadi bagian dari proses sejarah bangsa. Dinamika kaum muda saat ini, tidak cukup dengan pembelajaran sejarah romantik yang hanya mengingat masa lampau,” ungkap Prof Singgih.
Agar dapat menghargai sejarah, lanjutnya, generasi muda butuh pengalaman yang realistik. Kemunculan kritik dan masukan bagi pemerintah, sangat penting sebagai semangat dan harapan, untuk menuju Indonesia yang lebih baik di masa yang akan datang.
