“Kalau data mati itu, berarti tidak bisa dihubungkan dengan masalah di lapangan, atau datanya bagus tapi tidak dimanfaatkan,” tegasnya.
Menurutnya, kesalahan dalam menafsirkan data bisa berakibat fatal, sehingga perlu kehati-hatian dalam membaca dan mengolah data. “Kita tidak boleh menyesuaikan data dengan logika sendiri. Harus hati-hati, karena kalau salah menafsir, hasilnya bisa keliru,” ujarnya mengingatkan.
Hasto juga mendorong para pengelola data di setiap perangkat daerah untuk terus berlatih meng-overlay antar variabel agar analisis bisa dilakukan cepat dan efisien. Ia menambahkan, kemampuan membaca data mikro dan data kontinu sangat penting untuk mengukur tingkat kesejahteraan masyarakat secara lebih presisi, termasuk melalui pembagian desil.
“Kalau kita punya data mikro dan data kontinu seperti penghasilan, kita bisa bikin desil, dari desil 1 sampai 10. Jadi nanti masyarakat bisa tahu, masuk desil berapa. Yang menentukan desil itu kan dari data kontinu,” jelasnya.
Kepala Disdukcapil Kota Yogyakarta, Septi Sri Rejeki, menjelaskan bahwa Geotaktis merupakan salah satu inovasi dalam platform BIJAK yang dikembangkan untuk mendukung pengambilan kebijakan berbasis data spasial dan kependudukan. Aplikasi ini dapat diakses melalui laman https://bijak.jogjakota.go.id/.
