Tembakau Krosok Kian Dilirik Pabrik Rokok

Widiarto mengingatkan agar para petani tembakau menerapkan pola tumpangsari dengan hortikultura lain, sebagai antisipasi kerugian dampak cuaca ekstrim. Dengan pola ini, petani tidak perlu mengolah ulang tanah yang ditanami tembakau. Karena telah diolah lebih untuk budidaya tanaman hortikuktura seperti kobis, wortel, tomat, sawi atau sayuran lainnya.

Yang menarik, ada perubahan dalam proses pengolahan daun tembakau paska panen. Perubahan ini mulai terasa sejak dua tahun terakhir. Yakni, merajang daun tembakau sudah mulai ditinggalkan.

Menyiasati cuaca ekstrem, petani tidak lagi mengandalkan sengatan sinar matahari dalam proses pengeringan daun tembakau hasil panen. Tetapi cukup dengan cara diangin-anginkan di ruang yang terbebas dari percikan air hujan. Bisa di dalam atau luar ruangan.

Cara tersebut dipilih dengan beberapa pertimbangan. Selain cukup praktis dan juga efisien karena tidak membutuhkan banyak tenaga maupun biaya. Kendati dengan konsekuensi, harganya tidak sebagus tembakau rajangan kering.

Pola itu telah diterapkan oleh sebagian petani tembakau dataran tinggi belahan timur Kabupaten Magelang. Seperti kawasan lereng Gunung Merapi-Merbabu wilayah Kecamatan Ngablak dan Pakis. Di antaranya, Jumadi, petani di Desa Kaponan, Kecamatan Pakis; Pujiono (Banyusidi, Pakis). Suhadi, di Desa Munengwarangan (Pakis), selain masih menerapkan pola merajang, juga ikut membuat tembaku krosok.

Sharing:


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *