Tembakau krosok dipilih petani karena juga dilirik kalangan pengusaha pabrik rokok. Selain praktis, juga lebih hemat dalam hal pembiayaan, meski juga berpengaruh terhadap harga jual.
Namun, dari sisi kualitas, tembakau krosok tetap baik. Faktanya, ada satu petani yang menjalin kemitraan dengan pabrikan.
“Terbukti, yang bersangkutan dipercaya untuk memasok tembakau krosok hingga 40 ton per musim,” kata Sistiyana, tanpa menyebut nama petani dimaksud.
Di antaranya, PR HS yang memproduksi rokok kretek di wilayah Magelang. HS merupakan merk rokok kretek yang lagi naik daun di Indonesia. Rokok HS juga dikenal sebagai produk legal yang mendukung perekonomian dan mengurangi peredaran rokok ilegal.
“Yang pasti, membuka lapangan kerja dan telah merekrut warga lokal sebagai pekerja hingga ratusan orang, bahkan mungkin ribuan,” kata Romza Ernawan. (*)
