UNGARAN, Cakram.net – Lahir 53 tahun silam di Toroh, Kabupaten Grobogan, Amin Supari tak pernah membayangkan jalan hidupnya akan membawanya sampai ke Tanah Suci.
Bukan karena mengejar dunia, melainkan karena pengabdiannya yang tekun dan konsisten di dunia pendidikan dan dakwah.
Masa kecilnya ia di pedesaan yang sepi dan jauh dari hiruk pikuk kota. Tapi justru dari ketenangan desa itu ia belajar makna kesederhanaan dan ketekunan.
Kedua nilai itulah yang menemaninya saat memutuskan hijrah ke Semarang untuk belajar di PGAN (Pendidikan Guru Agama Negeri).
“Waktu itu enggak ada biaya untuk kos,” kenangnya.
