Proses ekskavasi ketiga ini dilakukan sejak 23 Agustus hingga 19 September 2022. Setelah digali, situs tersebut memiliki ukuran 16 meter x 14 meter. Dengan struktur batu bata merah kuno dan ketebalan 5 sentimeter. Untuk melindungi agar batu bata tidak cepat rusak, dibuatlah shelter seperti atap.
Saat dikupas bagian tengah, ternyata ada temuan baru. Berupa batu bata berundak yang dulunya diduga untuk meletakkan sesuatu atau tempat pemujaan.
“Jadi, kemungkinan candi ini tidak punya bilik hanya berupa batu sebagai alas, batu lagi yang di atasnya ada Yoni,” ungkapnya.
Situs ini, kata dia, tidak ada relasi dengan Candi Borobudur. Kendati demikian keberadaanya menjadi salah satu simbol toleransi beragama di tanah Jawa. Lantaran di kawasan Borobudur menjadi pusat kerajaan agama Buddha, namun ada masyarakat Hindu dan hidup saling berdampingan. Kondisi inilah yang melambangkan semangat toleransi yang dikembangkan pada zaman dahulu.
Selain itu, ada juga temuan arca berbahan perunggu dengan ketinggian 40 sentimeter. Namun, kata Taufik, belum bisa diidentifikasi karena atributnya ada yang hilang. Arca tersebut ditemukan pada kedalaman sekitar 2 meter, Jumat 26 Agustus 2022 lalu.
