Taufik menjelaskan, kemungkinan situs lain juga berada di permukiman warga. Pihaknya pernah melakukan survei Georadar atau salah satu metode geofisika yang menggunakan sumber gelombang elektromagnetik (EM), dan di sisi Utara ditemukan struktur baru. Tapi, belum digali lebih dalam. Begitupula di lapangan voli dekat Situs Samberan, ada anomali-anomali temuan yang juga diduga stuktur candi.
Dia menduga, jika candi tersebut berukuran besar, dimungkinkan adanya candi perwara atau candi kecil sebagai pelengkap. Namun, candi perwara tiap daerah, tidak selalu sama. Bisa satu atau lebih. “Mungkin di bagian sini ada karena belum kami gali saja,” kata dia.
Taufik mengatakan, umumnya, candi di Indonesia digunakan sebagai tempat ibadah. Berbeda dengan di India. Sehingga kemungkinan Situs Samberan ini juga merupakan tempat ibadah. Mengingat sudah ditemukan Yoni dan arca sebagai simbol ibadah umat Hindu.
Selain itu, BKB juga menemukan umpak atau alas tiang yang biasanya terbuat dari batu. Hal itu menandakan bahwa dulunya pernah memiliki atap berupa kayu, Open building. “Jadi, nggak punya bilik. Bentuknya seperti altar saja,” imbuhnya.
Sementara itu, Dosen Departemen Arkeologi Fakultas Ilmu Budaya UGM Dwi Pradnyawan menuturkan, sebenarnya pernah ada laporan dari Hindia-Belanda bahwa Candi Borobudur dikelilingi oleh situs. Tidak hanya bercorak Buddha, tapi juga Hindu. Hal itu berbanding terbalik dengan Candi Prambanan yang dikelilingi candi-candi Buddha.
