Kehadiran DMX Museum, lanjut Larissa, juga tidak dapat dilepaskan dari evolusi DCA yang selalu berinisiatif dalam menyambut era media tanpa batas.
Sehingga museum ini juga mengusung visi menjadi tempat yang unik untuk mengeksplorasi, tempat pembelajaran dan networking di dunia media hiburan melalui tur interaktif hingga pelatihan media.
Oleh karena itu, DMX Museum juga memiliki fasilitas pendukung lain yang lengkap mulai dari museum, immersive theater, studio telvisi, studio musik, studio tari hingga perpustakaan digital media.
Termasuk menyediakan ruang bagi setiap pengunjung untuk terhubung dengan masa lalu dan terinspirasi oleh masa depan yang sejalan dengan misi Dreamlight World Media. “Yakni mengedukasi, mengedukasi dan mentransformasi masyarakat melalui karya- karya entertaintment,” tegas Larissa.
Founder Dreamlight World Media, Eko Nugroho MBA menambahkan, perjalanan Dreamlight World Media diawali dari perusahaan produksi media sederhana yang mulai berdiri pada tahun 1996, di kota kecil Ungaran, Kabupaten Semarang.
