Bidik Kelas Menengah ke Atas, Petani di Ngablak Tanam Sayuran Premium

Standar bobot bit merah misalnya, sekira empat buah untuk setiap kilogram. Bayam Jepang grade A memiliki tinggi tanaman 35-40 centimeter, dengan kondisi daun bersih tanpa bercak hitam atau bekas dimakan serangga.

Meski begitu, kata Eko, sayuran yang tidak lolos standar supermarket masih bisa dijual ke beberapa pasar modern di Semarang.

“Kalau spek-nya tidak masuk (supermarket), kita jual ke semacam home industry atau pasar modern. Hasil panen kita serap semua baik yang grade A, B, maupun C,” lanjutnya.

Kelompok Tani Mutiara Organik saat ini menerapkan sistem tani plasma kepada para anggota. Petani anggota wajib menerapkan metode tanam yang seragam, sehingga mendapat hasil panen sesuai standar pasar.

Pengaturan masa tanam pada sistem pertanian plasma menjamin ketersediaan sayuran setiap hari. Petani tidak menanam sayuran dalam waktu bersamaan, sehingga dapat panen bergiliran.
Kepala Desa Sumberejo, Subandi menjelaskan, selain dipasarkan ke supermarket, hasil panen bit merah juga dikembangkan menjadi produk olahan minuman.

Bekerja sama dengan Tim Pengabdian Masyarakat Fakultas Pertanian dan Bisnis Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga, bit merah diolah menjadi teh celup. Teh celup berlabel “Bieten Tea” saat ini diproduksi oleh badan usaha milik Desa Sumberejo.

Selain meningkatkan nilai jual, produksi teh celup bisa membantu menstabilkan harga saat terjadi penumpukan hasil panen bit merah.

“Tapi sampai saat ini teh bit masih terkendala pemasaran. Alat-alat dan tenaga kerja sudah ada, tapi masih sulit pemasaran. Mungkin karena masyarakat belum familiar bit merah diolah menjadi teh celup,” kata Subandi.

Subandi berharap pemerintah bisa membantu membuka jalur pemasaran bit merah hingga menjangkau pasar yang lebih luas. “Potensi budidaya bit merah di desa kami masih sangat besar,” kata dia. (*)

Sharing:


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *