Hasil asesmen lapangan tersebut, lanjut Darmanto, menjadi dasar koordinasi tindak lanjut dengan Dinas Lingkungan Hidup (DLH), relawan KTB, dan instansi lain sesuai wilayah kejadian. “Bantuan yang diberikan disesuaikan hasil kaji kebutuhan pascabencana (Jitupasna), baik berupa material bangunan maupun bantuan biaya tukang,” jelasnya.
Selain penerbitan SE, Darmanto mengungkapkan pihaknya juga telah melakukan beberapa langkah teknis dalam menghadapi musim penghujan, seperti menghimbau masyarakat dengan menerbitkan surat himbauan yang ditujukan ke kemantren se-Kota Yogyakarta agar melaksanakan apel siaga relawan di wilayah masing-masing “Kami himbau agar kalau terjadi sesuatu di wilayah itu mereka langsung tanggap harus apa dan bagaimana sehingga meminimalkan dampaknya dan tidak korban,” katanya.
Pihaknya juga melakukan perbaikan unit Early Warning System (EWS) Banjir di tiga sungai besar hingga menjadwalkan simulasi penggunaan EWS secara serentak di seluruh Kota Yogyakarta.
“EWS manual ada 17 titik dan EWS automatic ada 9 titik. Semuanya tidak ada yang rusak hanya perawatan rutin, misal perawatan pada aki. Jadi semua siap digunakan,” jelasnya.
Darmanto juga menghimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap potensi cuaca ekstrem dan memantau perkembangan cuaca setiap hari.
