“Parkir dikelola oleh dinas terkait. Kami masih mengandalkan parkir di kawasan sekitar, termasuk untuk kendaraan rombongan. Ke depan tentu perlu antisipasi jika ada perubahan kebijakan parkir di kawasan kota,” ujarnya.
Selain parkir, tantangan lain yang dihadapi sepanjang 2025 adalah kebijakan pembatasan kegiatan karya wisata dari sejumlah daerah. Karmila mengungkapkan bahwa kebijakan tersebut berdampak pada penurunan kunjungan dari beberapa wilayah.
“Pengunjung dari Jawa Barat turun sekitar 15 persen, karena ada arahan agar kegiatan wisata dibatasi di wilayah masing-masing. Beberapa daerah di Jawa Timur juga menerapkan kebijakan serupa,” katanya.
Meski demikian, tren positif pariwisata di Kota Yogyakarta pada akhir tahun 2025 turut membantu menjaga capaian kunjungan. “Alhamdulillah, Jogja tetap menjadi salah satu tujuan utama wisata akhir tahun. Ini cukup membantu kami di tengah berbagai sentimen eksternal,” tutur Karmila.
Ia berharap ke depan kebijakan pariwisata antar daerah dapat lebih tersinergi di tingkat nasional. “Tujuannya tentu baik, tetapi perlu sinkronisasi agar tidak berdampak besar pada pariwisata nasional. Di sisi lain, kami sebagai pengelola destinasi juga terus berupaya menjaga kualitas layanan agar kepercayaan pengunjung tetap terjaga,” pungkasnya. (*)
