Peserta residensi berasal dari berbagai sekolah, di antaranya SMP Pangudi Luhur Moyudan, Sleman dan SMA Santo Yosef Solo. Keterlibatan mereka tidak hanya dalam latihan teknis, tetapi juga dalam proses kreatif bersama musisi senior.
Praktisi keroncong sekaligus pengajar ISI Yogyakarta, Imung Mulyadi menilai, pendekatan ini sebagai langkah positif dalam menjaga keberlanjutan musik keroncong. Menurutnya, ruang-ruang pembelajaran seperti ini menjadi kunci agar keroncong tidak terputus dari generasi muda.
“Ini bukan sekadar pelatihan, tapi proses berjenjang yang memberi ruang bagi anak-anak untuk berkembang dan tampil,” paparnya.
Dia juga menilai, anggapan keroncong sebagai musik kalangan tua mulai terbantahkan. Antusiasme pelajar dalam kegiatan ini menunjukkan keroncong masih relevan, asalkan diberi ruang dan pendekatan yang tepat.
Namun, dia mengingatkan, regenerasi tidak bisa dilakukan dengan pendekatan yang kaku. Menurutnya, generasi muda perlu diberi kebebasan untuk mengeksplorasi keroncong dengan gaya mereka sendiri. Pendekatan ini dinilai penting agar keroncong tidak sekadar bertahan sebagai warisan, tetapi juga berkembang sebagai bentuk ekspresi yang hidup di tengah perubahan zaman. (*)
