Ditegaskan, strategi komunikasi bukan sekadar jadwal posting media sosial, melainkan peta jalan komunikasi yang mencakup empat hal penting. Meliputi identifikasi kelompok sasaran yang tepat, menentukan isi komunikasi yang relevan, memilih saluran yang mampu menjangkau sasaran, serta menetapkan indikator keberhasilan komunikasi.
Dia juga menyoroti pentingnya kehadiran narasi resmi pemerintah di ruang publik. Menurut Sri Hendriyani, sentimen negatif masyarakat tidak selalu muncul akibat buruknya kinerja pemerintah, melainkan karena absennya informasi resmi yang mampu mengimbangi spekulasi publik.
“Ketika institusi diam, publik dan media mengambil alih kendali cerita. Miskomunikasi dan hoaks berkembang biak di dalam ruang kosong, yang tidak diisi oleh klarifikasi resmi pemerintah,” tegas Sri Hendriyani.
Dia menambahkan, humas pemerintah juga perlu menjalin sinergi dengan pers, influencer, dan homeless media, untuk ikut mengampanyekan keberhasilan maupun capaian program pemerintah daerah, agar informasi positif dapat menjangkau masyarakat secara lebih luas. “Sekarang yang sedang tren adalah homeless media, basisnya media sosial, tidak memiliki kantor resmi, tapi pengaruhnya besar dan memiliki engagement yang tinggi,” ucap Sri.
Sementara itu, Kepala Bidang Komunikasi Publik dan Media Diskomdigi Jateng, Enrico Adrian Ramandha mewakili Kepala Diskomdigi Jateng, mengatakan, kegiatan itu sangat penting sebagai upaya meningkatkan kapasitas sumber daya komunikasi publik yang profesional.
