MAGELANG, Cakram.net — Berbekal riset mandiri yang dimulai dari ruang sempit di rumah saat pandemi Covid-19, Akhmad Sulistyo sukses mengembangkan budidaya melon premium berbasis hidroponik di Green House Almash Melon, Desa Jogonogoro, Kecamatan Mertoyudan, Kabupaten Magelang. Setelah berjalan dua tahun, usaha ini tidak hanya bernilai ekonomis tinggi, tetapi juga diintegrasikan menjadi kawasan wisata edukasi pertanian modern.
Sulistyo mengisahkan, inisiatif tersebut lahir ketika aktivitasnya di dunia proyek terhenti akibat pembatasan pandemi. Ia kemudian memanfaatkan area berukuran 2×3 meter di rumahnya untuk mempelajari teknik pertanian modern yang diadopsi dari Jepang dan Thailand.
“Saya dulu bekerja di proyek. Saat Covid-19, saya belajar di rumah. Sekitar dua tahun saya melakukan riset tentang pertanian. Saya ingin mengembangkan pertanian modern sekaligus menarik minat anak muda untuk menjadi petani,” ujar Sulistyo, dikutip dari portal resmi Pemkab Magelang, Senin (26/10/2026).
Dari riset tersebut, Sulistyo membangun fasilitas greenhouse berukuran 14×50 meter berkapasitas 1.500 tanaman. Proses budidaya menerapkan sistem hidroponik Nutrient Film Technique (NFT), di mana larutan nutrisi dialirkan secara tipis dan kontinu melalui saluran akar untuk menjamin suplai air serta nutrisi tanaman.
Saat ini, Green House Almash Melon berfokus pada dua varietas unggulan, yakni Sweet Lavender dan Hami. Kedua jenis ini dipilih karena memiliki karakteristik tekstur renyah (crunchy), berair, dan tingkat kemanisan tinggi yang banyak dicari pasar.
