Dikatakan, tanaman kedelai cukup gampang ditanam. Selain itu, perawatannya mudah, dan tidak memerlukan pupuk ekstra. Oleh karena itu, ratusan petani di Desa Pojok memilih kedelai sebagai tanaman pangan selain jagung dan padi.
“Kalau di Grobogan rerata petani menanam varietas Grobogan. Dulu kan awalnya tanam varietas Malabar, tapi kalau jenis itu petani bilang (sifat tanaman) berubah. Nah jadi sekarang ya pakai varietas Grobogan,” ujarnya.
Kepala Dinas Pertanian Grobogan, Sunanto menambahkan, varietas lokal memiliki kualitas baik, tak kalah dari kedelai impor. Bahkan, varietas Grobogan dinilai lebih unggul karena belum direkayasa secara genetis. Keunggulan varietas lokal di antaranya, umur tanaman yang pendek sekitar 76-85 hari siap panen, produktivitas tinggi, dan protein yang lebih tinggi.
“Kita pernah menanam itu produktivitasnya 3,6 ton per hektare untuk varietas Grobogan. Selain itu proteinnya lebih tinggi lokal yang mencapai 43-44 persen, dibanding impor yang hanya 38 persen. Selain itu kedelai lokal lebih fresh, sementara kedelai impor adalah transgenik atau Genetically Modified Organism (GMO). Kalau kedelai kita non-GMO lebih sehat,” paparnya.
Secara data, Sunanto memaparkan produksi kedelai Grobogan mengalami fluktuasi. Pada 2018 panen petani kedelai mengalami kejayaan. Pada tahun tersebut luasan produksi kedelai mencapai 60 ribu hektare.
