Protein Lebih Tinggi dari Impor, Pemprov Jateng Genjot Produksi Kedelai Grobogan

Setelahnya, pada 2019 lahan kedelai turun menjadi 15 ribu hektare, lalu 2020 menyusut kembali menjadi hanya 6.000 hektare. Pemulihan mulai terasa pada 2021  luas produksi tanaman kedelai meningkat menjadi 15 ribu hektare, dan 2022 ditargetkan 30 ribu hektare.

“Kelemahannya, masyarakat belum percaya benih lokal bisa untuk tahu atau tempe. Maka dari itu, kita dirikan Rumah Kedelai Grobogan, yang di sana tahu dan tempe dihasilkan dari benih-benih lokal. Dan benih kedelai Grobogan itu menyuplai sekitar 75 persen kebutuhan benih nasional,” sebut Sunanto.

Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Jateng Supriyanto mengatakan, produksi kedelai lokal belum bisa memenuhi kebutuhan kedelai di Jawa Tengah. Namun demikian, pemerintah daerah dan pusat terus menggenjot produksi serta memberikan bantuan bagi para petani.

Ia mengatakan, produksi kedelai di Jateng mencapai puncaknya pada 2018 yang mencapai 166 ribu ton. Namun seiring fluktuasi harga, produksi kedelai di bawah 100 ribu ton. Sementara, kebutuhan kedelai di Jateng defisit 555 ribu ton per tahun.

Supriyanto menyebut, tidak mempermasalahkan masuknya kedelai impor. Hanya, ia mendorong agar petani mulai menggalakkan penanaman kedelai lokal, seiring harga jual yang dinilai membaik.

Sharing:


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *