Di tengah hiruk pikuk peribadatan, kami menemui Budi Raharjo. Dia mengeluh sejak 1987 tidak bisa pensiun dari jabatan ketua pengurus. Tidak ada orang yang mau menggantikan posisinya.
“Adanya cuma gitu-gitu saja. Makanya kelenteng di Indonesia jarang yang bisa maju pesat,” terangnya.
Budi menyampaikan keinginannya untuk kembali membuka sekolah Tionghoa di kompleks kelenteng. Ada potensi anak-anak Tionghoa tertarik belajar di sekolah tiga bahasa: Indonesia, Inggris, dan Mandarin.
Sekolah Bakti Tunas Harapan, salah satu yang menggunakan kurikulum pengajaran tiga bahasa. Istilah yang mereka gunakan, Trilingual National School.
Tapi begitu mengingat banyak warga keturunan Tionghoa yang sekarang ogah-ogahan bersinggungan dengan kegiatan kelenteng, Budi menjadi ragu. Memiliki modal bangunan saja, tidak cukup untuk membangun sekolah.
