“Tempat, kita ada. Permasalahannya kita bisa mencari (murid) tidak? Kalau mau jadi umat, saya kira kami juga nggak narik umat. Kami welcome saja,” imbuhnya.
Sikap Budi sangat terbuka kepada pihak yang berminat menghidupkan kembali sekolah dan perpustakaan. Menurut dia, kelenteng terbuka dikunjungi untuk tujuan belajar dan pemajuan kebudayaan.
Budi berharap, perpustakaan di kelenteng Hok An Kiong menjadi sarana khalayak umum mempelajari kebudayaan Tionghoa. “Harapan kami ada yang bisa melestarikan kebudayaan Tionghoa. Cuma itu. Lain nggak ada,” tutupnya. (*)
